Haji dan Umrah
Trending

Percepat Umrah, Menag ke Saudi Akhir Oktober

Hal yang sangat penting dibahas adalah terkait dengan sertifikat vaksin dan vaksin booster untuk jamaah umrah Indonesia.

Bogor, UmrahNews – Menteri Agama (Menag) Cholil Yaqut Qoumas mengungkapkan bahwa akhir bulan ini, ia akan ke Arab Saudi untuk bertemu langsung dengan otoritas terkait umrah dan haji Saudi. Pihaknya membawa misi agar Indonesia bisa segera mengirim jamaah umrah ke Saudi serta memberangkatkan jamaah haji tahun depan.

“Mohon doanya kepada bapak ibu sekalian agar misi yang saya bawa ini berhasil dan kita semua bisa kembali memberangkatkan jamaah umrah dan haji di tahun depan,” ujar Menag dalam sambutan Mukernas 2021 Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia  (AMPHURI) yang diselenggarakan secara secara hybrid di Kampung Maghfirah, Tangkil, Caringin, Bogor pada  Rabu (20/10/2021).

Meski demikian, Menag tidak merinci poin-poin yang akan dibahas dalam pertemuan dengan Pemerintah Saudi pada akhir Oktober ini.

Eko Hartono, Konsul Jenderal RI di Jeddah dalam sambutannya secara daring diacara Mukernas AMPHURI 2021 mengatakan,  Pemerintah Saudi baru membuka umrah untuk jamaah luar negeri pada Agustus 2021. Saat ini ada 12 negera yang sudah dibolehkan masuk Saudi.

“Untuk jamaah Indonesia memang belum diperkenankan hingga saat ini karena ada beberapa hal teknis yang masih dibahas antara kedua belah pihak,” tuturnya.

Menurut Eko, hal yang sangat penting dibahas adalah terkait dengan sertifikat vaksin dan vaksin booster. Sampai sekarang sertifikat vaksin atau barcode vaksin yang dipakai Indonesia belum bisa dibaca oleh sistem di Saudi. Sementara  Pemerintah Saudi mensyaratkan bahwa semua yang bisa umrah adalah yang sudah divaksin lengkap, sehingga jamaah Indonesia harus melengkapi diri dengan sertifikat yang bisa dibaca oleh Saudi.

Yang kedua, kata Eko, mengenai booster.   Pemerintah Saudi mengatakan bahwa bagi jamaah asing yang divaksin selain empat vaksi  yang dipakai di Saudi itu harus memperoleh booster salah satu dari empat vaksin yang dipakai oleh Saudi, yakni Pfizer, Moderna, JohnsonJohnson dan Astra Zaneca.

“Ini yang dibahas kedua pihak, mudah-mudahan nanti hasil positif bisa didapat sehingga jamaah umrah Indonesia dapat segera melaksanakan ibadah umrah dan haji di Saudi,” tutur Eko.

Pastikan Jamaah Patuh

Dalam sambutannya, Gus Yaqut meminta para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk benar-benar memastikan jamaahnya mematuhi aturan protokol kesehatan yang diterapkan.

“Kita tidak ingin ada kejadian jamaah negatif ketika di Indonesia, tapi saat tiba di Saudi Arabia, sebaliknya jadi positif.  Kita tidak tahu apakah dari tesnya atau tidak patuhnya jamaah pada prokes setelah tes di Tanah Air. Ini yang mohon dijaga, karena ini bisa menghambat pelaksanaan ibadah umrah selanjutnya, bahkan pelaksanaan ibadah haji,” tutur dia.

Terkait nota diplomatik Pemerintah Saudi ke Kementeria Luar Negeri RI terkait pembukaan umrah untuk jamaah Indonesia, menurut Menag, hal itu tidak lepas dari keberhasilan semua pihak dalam menekan kasus covid-19. Vaksinasi dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan adalah kunci keberhasilan Indonesia bisa menekan kasus covid-19.

Dalam sambutannya, Menag mengajak kembali kepada seluruh PPIU dan PIHK untuk mendukung program vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kerja, keluarga dan tempat tinggalnya.

“Tunjukkan kita  jamaah yang patuh kepada regulasi dan protokol kesehatan. Ini penting agar, selain untuk menjaga jamaah, juga kita dikenal negara lain khususnya Kerajaan Saudi bahwa Indonesia jamaah-jamaahnya patuh dan disiplin, sehingga ini membuka peluang untuk keberangkatan jamaah di masa yang akan datang atau bahkan mungkin menambah kuota untuk jamaah haji,” tuturnya.

Kementerian Agama, kata Gus Yaqut, sedang menyusun prosedur baru yang akan diterapkan dalam penyelengaraan umrahi.

Menag berharap Mukernas AMPHURI bisa memberi sumbangan dalam kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan regulasi, serta membuat inovasi-inovasi untuk peningkatan layanan dan solusi atas tantangan penyelenggaraan haji dan umrah masa sekarang dan yang akan datang.

“Kita dalam masa yang penuh tantangan, sehingga cara berpikir kita tidak bisa seperti dalam situasi normal seperti sebelum pandemi. Kita harus berpikir dengan cara-cara penyesuaian terhadap pandemi,” kata Menag.

Tulis Komentar

Back to top button